Menjadi Imitator

Tulisan ini pernah dimuat di harian surabaya post tanggal 18 September 2001.
© 2001. N. Adhi W. All rights reserved.

Di Bandung mah, semua bisa dibikin…

Itu menurut kang Yono yang biasa dipanggil Abah, yang sering mangkal di depan BIP untuk mengisi waktu luangnya, berjualan pernak-pernik dan accessories yang aneh-aneh mulai dari gelang sampai ke sandal.


Tapi memang begitu koq kondisinya. Apalagi untuk baju, celana, sandal, tas dan dompet, dia bilang tinggal bawa saja gambar, katalog atau kalau bisa produk aslinya, nggak sampai seminggu barang sudah jadi.


Yang lebih gilanya lagi, seorang karyawan yang bekerja di pabrik tas pernah mengeluh, desain tas paling anyar baru muncul hari ini dua-tiga hari berikutnya sudah ditiru kompetitor. Kalau tasnya dibeli terus di pabrik baru dijiplak sih masih mendingan, parahnya, cara ngejiplaknya nggak tanggung-tanggung, datang ke point of sales, desain terbaru tersebut langsung digambar di depan mata SPG atau penjaga counter!!! Gimana nggak kheki dia, sudah capek-capek desainer di perusahaan tempat dia bekerja memutar otak untuk mengembangkan desain, nggak tahunya begitu muncul di pasar langsung dijiplak mentah-mentah.


Tetapi itu memang resiko dari menjalankan sebuah usaha, dan kita tidak bisa langsung menyalahkan para penjiplak, karena desain tas dari merek lokal yang paling terkenal dan banyak penggemarnya pun sebenarnya masih meniru atau merupakan pengembangan desain dari luar negeri. Jadi seperti hukum karma. Dan sebagai sesama imitator mereka punya kebebasan untuk menjiplak selama desain itu tidak dipatenkan oleh merek atau perusahaan yang menjadi pemilik desain.


 

Imitator dan yang Diimitasi

Tapi jangan kecil hati dulu, karena menurut Steven P. Schnaars dalam bukunya yang berjudul Managing Imitation Strategy, status atau jenis pembajak atau imitator sebenarnya terbagi menjadi beberapa kategori yaitu pemalsu/pembajak (counterfeits/product pirates), peniru (knockoffs/clones), penjiplak desain (design copies/trade dress), atau adaptor (creative adaptations). Tinggal pilih saja perusahaan kita ini termasuk yang mana. Dan yang dibajak juga bukan hanya produknya, tetapi juga termasuk proses, sistem dan prosedur, dan bahkan strategi!



Pemalsu (counterfeits/product pirates)
adalah pihak yang tanpa malu-malu menggunakan merek produk yang mereka bajak. Kalau kita jalan ke Pasar Baru, atau pasar lainnya di sana banyak dijajakan pakaian dengan merek internasional seperti Levi’s, Versace, Aigner, DKNY atau lainnya dengan harga yang sangat bersahabat tetapi kualitasnya jauh dari bersahabat, karena barang yang dijual di situ sudah jelas merupakan barang bajakan. Sebenarnya di beberapa factory outlet pun ada yang menjual barang kategori ini, tetapi karena menggunakan label factory outlet dan tempat yang lumayan representatif, tidak berdesakan seperti di pasar, maka konsumen pun terbuai, pasti deh ini barang sisa ekspor padahal belum tentu, soalnya ada juga yang ngambil barang dari home industry atau konfeksi. Lha label dan accessories-nya dijual secara kiloan dan bisa didapat dengan mudah koq.



Peniru (knockoffs/clones)
, adalah pihak yang jelas-jelas meniru dari kompetitor. Yang ini masih mendingan, barang atau teknologinya ditiru, tapi merek yang dipakai masih merek punya sendiri. Kalau yang ini sih banyak. Kalau disebut satu-satu bakalan habis jatah kolom untuk tulisan saya. Satu contoh saja, misalnya sistem yang sekarang lagi digembar-gemborkan oleh tas merek Eiger, yaitu Eiger Comfort Back System. Sebenarnya teknologi ini di luar negeri sono sudah karatan. Tapi karena di Indonesia baru Eiger yang niru teknologi ini, makanya dia bisa bilang “jangan siksa punggung anda”. Atau kalau mau memperhatikan tas jenis carrier, maka shoulder strap atau tali bahunya sepintas mirip huruf ‘S’ yang berhadap-hadapan, teknologi ini juga sebenarnya sudah diterapkan di setiap tas merek global yang khusus dibuat untuk ber-adventure-ria.


Atau yang lebih gampang lagi di bisnis komputer. Kalau mau punya personal computer dengan kinerja maupun isi hardware sama seperti IBM atau Compaq, kita tinggal lihat dan pelajari saja spec-nya, terus pergi ke toko komputer, minta tolong dirakitkan komputer dengan basis spec dari IBM atau Compaq, mereknya tinggal pasang nama toko tempat kita ngerakit, AnuComputer, misalnya.



Kalau soal desain sandal, baju atau celana adventure merek lokal manapun jangan ditanya deh… Tinggal lihat dan bandingin dengan katalog dari luar negeri juga kita tahu siapa yang niru siapa… Makanya pihak yang melakukan hal ini masuk ke kategori penjiplak desain (design copies/trade dress). Desainnya mereka jiplak, terus dijual dengan harga miring, karena mereka tentunya tidak perlu menggaji desainer, tetapi cukup menggaji tukang pola saja.



Terakhir adalah jenis adaptor (creative adaptations). Perusahaan yang masuk kategori ini nggak cuma ngejiplak desain, tapi juga mereka mempelajari sekaligus mengembangkan desain dari produk yang mereka jiplak. Ini yang disebut imitasi yang inovatif. Tas merek Esxport dan sepatu The Fly mungkin bisa dimasukkan dalam kategori ini, karena mereka mengadaptasi model yang sedang nge-trend di luar negeri, dan mengembangkannya untuk pasar dalam negeri. Selain itu, sepertinya merek ini punya yang namanya design center karena secara periodik selalu mengeluarkan model terbaru, sehingga bisa mengatur siklus hidup produk dan penjualannya, tidak tergantung lagi pada tahun ajaran baru yang hanya setahun sekali.

 


Siapa yang Dapat Bertahan?

Dari keempat kategori tersebut, sebenarnya yang mana sih yang bisa bertahan secara jangka panjang? Sebelumnya kita harus mengetahui terlebjh dahulu bahwa hal yang memotivasi para pengusaha untuk menjadi imitator adalah untuk mengejar ketertinggalan dan juga menunggu reaksi dari pasar. Ini erat hubungannya dengan tingkat kemalasan sebuah perusahaan untuk melakukan inovasi dan juga tingkat ketakutan untuk mengambil resiko gagal di pasar. Makanya ada desain dari satu merek tas yang baru diluncurkan beberapa hari kemudian sudah ada kompetitor yang meniru, karena mereka melihat penjualan dari desain tersebut lumayan sukses di pasar.


Kembali lagi, kalau kita analisa yang bisa bertahan tentunya sang adaptor, karena dia memiliki kemampuan untuk mengembangkan dari yang sudah ada, sehingga tingkat ketergantungannya pada produk yang inovatif tidak terlalu tinggi.


Kalau pemalsu? Jelas pengusaha jenis ini cuma memanfaatkan trend yang lagi berlaku di pasar. Sekarang musim orang pakai DKNY dia beli label dan bikin DKNY, bulan depan musim Versace dia keluarin Versace, akhir tahun para pemalsu masuk bui karena ada legal action dari para brand owner, dia sibuk cari tempat persembunyian…


Bagaimana dengan peniru dan penjiplak? Perusahaan tipe ini tentunya masih bisa bertahan, tetapi pas-pasan, karena mereka hanya mengandalkan pada faktor harga yang lebih murah untuk memikat konsumen.


Sebagai contoh, merek Exsport dalam skala global termasuk dalam kategori adaptor yang desain produknya dikembangkan dari model yang sedang in di pasar global. Sedangkan dalam skala lokal, mereka termasuk first-mover, karena desainnya ditiru oleh kompetitor lokal alias free-rider. Karena itu, dalam skala lokal Exsport sebagai first-mover mempunyai keuntungan sebagai trend setter dan harga pun bisa ditentukan dengan semaunya karena experience effect-nya pun lebih duluan dari free-fider. Selain itu, sebagai trend setter tentunya konsumen pun punya brand loyalty yang cukup tinggi.


Tetapi jangan salah, para free-rider punya beberapa keuntungan seperti:

·        tidak perlu mengembangkan produk yang tidak punya potensi

·        biaya pengembangan yang lebih rendah

·        kesempatan untuk mendapatkan pangsa pasar yang cukup besar dengan berpromosi

·        biaya yang lebih rendah untuk mengedukasi konsumen

·        kesempatan untuk mengambil keuntungan dari perubahan yang terjadi di pasar.


Jadi, jenis imitator yang mana yang Anda pilih?