Tulisan ini pernah dimuat di harian surabaya post tanggal 24 November 2001.
© 2001. N. Adhi W. All rights reserved.
Begitu judul berita di harian Pikiran Rakyat tanggal 12 November kemarin. Berita itu muncul setelah sehari sebelumnya ada event yang namanya Adu Pedas Baso Malang Karapitan, dimana para semifinalis beradu cepat makan semangkok baso malang plus 75 sendok sambal sesuai dengan hasil lelang. Nggak kebayang deh bagaimana pedasnya tuh baso…
Efeknya ya
jelas, semifinalis yang coba-coba makan dengan 75 sendok sambal dan ternyata nggak
kuat, baru makan beberapa sendok akan mundur dengan sukarela, tapi yang jadi
masalah sebenarnya yang nekat nyoba untuk ngabisin, setelah batas waktu habis
mereka meninggalkan arena lomba, baru jalan beberapa langkah langsung
merangkak, dan keluar semua isi perutnya.
Walaupun
kalau dihitung sebenarnya tidak sampai 50 orang peserta yang 'teler' karena
kepedasan, tapi dengan headline berita 100 orang peserta ada dua
kemungkinan yang bakal timbul, good PR, nama Baso Malang Karapitan jadi naik
lagi dan mulai dikenal oleh publik, atau malah bad PR, image-nya jadi
jelek.
Experiential Marketing
Tapi terlepas dari masalah publikasi, apa yang dilakukan oleh Baso Malang Karapitan dengan Adu Pedas-nya merupakan sebuah bagian dari apa yang disebut experiential marketing.
Apaan sih experiential
marketing?
Menurut Bernd H. Schimtt dalam bukunya yang
berjudul Experiental Marketing: How to get customers to sense,
feel, think, act, and relate to your company and brand, pengalaman atau experience
adalah sebuah peristiwa pribadi yang terjadi pada seseorang dalam merespon
sebuah rangsangan. Pengalaman adalah hasil dari mengobservasi atau
berpartisipasi dalam sebuah peristiwa -- tidak peduli peristiwa tesebut nyata
atau tidak. Beberapa pengalaman melibatkan semua aspek dalam diri kita --
pikiran, perasaan, akal dan tubuh. Pengalaman melibatkan sisi rasional dan
emosional dari manusia.
Dan para experiential
marketer biasanya memfokuskan program pemasarannya pada cara mengkonsumsi
sebuah produk, dan menganalisa bagaimana pola yang cocok untuk mengkonsumsi
produk tersebut. Kemudian dikembangkan bagaimana cara mengemas, mengiklankan
dan elemen pemasaran lainnya yang sejalan dengan experience yang ingin
dirasakan oleh konsumen agar dapat meningkatkan penjualan.
Karena itu,
Adu Pedas menjadi awal dari sebuah program experiential marketing dari
Baso Malang karapitan. Dengan membuat event Adu Pedas, konsumen
seolah-olah ditantang untuk mencoba makan semangkok baso malang dengan
menggunakan sambal yang katanya sih nikmat dan bisa membuat pusing kita
hilang sebagaimana kampanye radio yang sekarang sedang gencar diputar di salah
satu radio swasta di Bandung setelah event Adu Pedas ini selesai.
Terus terang
saja, program ini dapat merangsang konsumen yang penasaran sampai sejauh mana
sih nikmat dan pedasnya makan baso malang? Program ini mungkin didasarkan pada
perilaku kebanyakan konsumen dalam memakan baso, baik mie baso maupun baso
malang, yang suka menggunakan sambal. Karena dengan menggunakan sambal, kuah
baso tersebut menjadi segar, tidak cuma terasa kaldu saja, tetapi ada sesuatu
yang menggigit dan terasa berbeda di lidah, tenggorokan dan juga terasa hangat
di dalam lambung tentunya…
Saya
sebenarnya kurang begitu peduli dengan berapa banyak korban yang berjatuhan
akibat penasaran mencoba tantangan makan baso malang dengan 75 sendok sambal,
karena begitu event ini selesai, ternyata korban sudah tidak ada alias sudah
pulang ke rumah masing-masing, atau malah nonton band penghibur yang mendukung event
ini. Tetapi yang jelas event Adu Pedas ini membuahkan hasil yang
positif bagi Baso Malang Karapitan, terutama untuk outletnya yang terletak di
jalan Karapitan, karena outlet ini sangat identik dengan Baso Malang Karapitan.
Penggunaan Program Experiential Marketing
Coba saja Anda bayangkan, Baso Malang Karapitan punya enam outlet di kota Bandung, tetapi apa yang terlintas di benak konsumen kalau kita sebut Baso Malang Karapitan? Pertama baso malang, terus restoran dan yang jelas, jalan Karapitan. Makanya begitu selesai event Adu Pedas Baso Malang Karapitan, outlet di jalan Karapitan mendadak ketiban rejeki, namanya yang mulai pudar karena kalah populer dengan yang terletak di King’s shopping center dan jalan Merdeka, menjadi beken kembali.
Hal tersebut
berkaitan sekali dengan apa yang diungkapkan Bernd H. Schimtt, experiential marketing dapat
digunakan secara efektif untuk:
· Menyegarkan kembali merek yang sudah pudar
· Membedakan sebuah produk dari kompetitornya
· Menciptakan sebuah image dan identitas dari sebuah perusahaan
· Memperkenalkan hasil temuan yang inovatif
· Merangsang konsumen untuk mencoba dan membuat mereka menjadi loyal
Dari paparan
tersebut di atas, dua hal sudah jelas merupakan efek dari program experiential
marketing, yaitu menyegarkan kembali merek yang sudah pudar dan merangsang
konsumen untuk mencoba dan membuat mereka menjadi loyal.
Kalau
membedakan produk dari kompetitornya, sepertinya sudah dari dulunya juga beda,
jangan dikira kompetitor utama dari Baso Malang Karapitan itu adalah para mang-mang
dengan pikulan ataupun gerobak baso, tetapi kompetitor mereka sebenarnya
adalah McDonald’s, KFC, Popeyes dan jaringan restoran fastfood lainnya.
Makanya cukup dengan berjualan baso produknya sudah berbeda dengan kompetitor,
tidak seperti McDonald’s, KFC dan Popeyes yang saling sikut-sikutan dalam
menjual nasi plus ayam goreng ditepungin, di Baso Malang Karapitan sih
nggak ada menu yang kayak gitu, jadinya punya penggemar
tersendiri…
Menciptakan
sebuah image dan identitas dari sebuah perusahaan, ini sih harus
dilihat dalam jangka panjang, nggak bisa sekali bikin program atau event
dengan berbasiskan experiential marketing, langsung jebret!
image perusahaan sudah tercipta, tetapi harus dibangun secara berkelanjutan,
sampai image yang diinginkan sudah melekat dengan kuat di benak
konsumen.
Memperkenalkan
hasil temuan yang inovatif? Kayaknya nggak deh… lagian apanya yang
inovatif? Produknya diambil dari menu gerobak baso plus beberapa tambahan. Nggak
ada yang aneh, kalaupun ada yang aneh, paling cuma rujak jagung bakar, itu juga
nggak ditonjolin dalam program pemasaran dengan basis experiential
marketing.
Tetapi, experiential
marketing sendiri mempunyai kelemahan, yaitu bagaimana kalau dalam rentang
waktu tertentu konsumen sudah menjadi terbiasa dan merasa bosan dengan tema
yang kita angkat dalam program experiential marketing tersebut.
Akibatnya konsumen akan mulai berpikir tidak ada yang istimewa lagi dari produk
atau jasa yang kita tawarkan. Untuk itu, kita harus tetap inovatif dalam
mengembangkan tema program experiential marketing, dan tema program
harus tetap sejalur dengan yang telah dijalankan sebelumnya, ini yang sulit.
Jadi, seperti
kata Shakespeare dalam Hamlet, to be (experiential) or not to be
(experiential), that’s the question…