Tulisan ini pernah dimuat di harian surabaya post tanggal 31 Oktober 2001.
© 2001. N. Adhi W. All rights reserved.
"Kemana lagi nih? Soalnya disini penuh, harus reservasi, terus kalau nunggu kelamaan…"
Begitu yang saya dengar dari pengunjung Kampung Daun yang baru tahu bahwa tempat yang mereka kunjungi ternyata penuh. Pengunjung yang datang akhirnya terbagi menjadi beberapa kelompok, yang rela menunggu sekitar satu sampai satu setengah jam, pergi ke café lainnya, atau akhirnya hanya berekreasi menikmati suasana dengan berkeliling ataupun sekedar nongkrong di Kampung Daun. Sebenarnya rugi juga kalau kejadian seperti itu sering terjadi, maka kebayang sudah opportunity cost yang harus ditanggung oleh pihak manajemen Kampung Daun.
Well,
welcome to experience economy, when goods and services are no longer enough…
Untuk dapat
bersaing ataupun keluar dari persaingan kita harus menambahkan unsur experience
dalam produk yang kita tawarkan. Hal tersebut yang dicoba untuk ditawarkan
oleh Kampung Daun, suasana yang cozy, ditambah dengan suara air
mengalir, dan hawa yang cukup dingin karena lokasinya berada di daerah
Cihideung - Lembang, maka lengkap sudah experience yang dirasakan oleh
pengunjung. Padahal kalau kita lihat menu makanan yang ditawarkan, tidak akan
berbeda jauh dengan menu makanan restoran maupun café yang banyak beredar di
dalam kota Bandung.
Atau mau coba
Waroeng Daweung? Dengan lokasi di bumi perkemahan Moko yang terletak di
ketinggian sekitar 1500 dpl, selain menawarkan pemandangan kota Bandung,
Lembang plus gunung Tangkuban Parahu serta hamparan hutan pinus, Waroeng
Daweung juga menantang kelompok yang rajin mendandani mobilnya dengan lumpur
alias offroader untuk datang berkunjung, karena mereka ditantang untuk
mencoba rute Dago Pakar – Sekerendeu untuk membuktikan keahliannya dalam
mengendarai mobil 4x4.
Tapi ya…,
hanya begitu-begitu saja. Di Bandung waktu café lagi booming, banyak
restoran dan café yang didirikan tapi akhirnya banyak yang ngos-ngosan atau
malah mati. Karena mereka hanya menjual suasana, sedangkan menu yang ditawarkan
hampir sama dengan restoran dan café lainnya, paling-paling cuma re-branding
biar kelihatannya berbeda padahal sih isinya sama saja.
Dalam bukunya
The Experience Economy, Pine & Gilmore membagi pengalaman yang
dirasakan oleh pengunjung 4 kategori yaitu entertainment, educational,
escapist dan esthetic. Kategori tersebut merupakan kombinasi dari
partisipasi pengunjung yang aktif (active participation) atau pasif (passive
participation), dan hubungan antara pengunjung dengan tempat atau event
yang hanya menerima saja (absorption) atau ikut terlibat secara fisik di
dalam kegiatan (immersion).
Pengalaman
yang masuk kategori entertainment timbul apabila pengunjung menerima
secara pasif pengalaman tersebut melalui panca indra mereka, seperti menonton
film, mendengarkan musik atau hanya sekedar membaca. Educational timbul
apabila pengunjung dapat menerima pengalaman apabila dia berpartisipasi secara
aktif dalam sebuah event. Proses belajar mengajar mungkin kalimat yang
tepat untuk menggambarkan kategori educational.
Sebuah
pengalaman dapat dikategorikan sebagai Escapist apabila pengunjung
melibatkan dirinya untuk berpartisipasi secara penuh dalam sebuah event dan
mempengaruhi outcome dari event tersebut. Mendaki gunung,
memanjat tebing, outbond dan berarung jeram adalah beberapa kegiatan yang
termasuk ke dalam kategori escapist.
Sedangkan
apabila kita hanya menikmati suasana atau pemandangan dan apa yang kita lakukan
tidak berpengaruh sama sekali pada event tersebut, maka bisa dibilang
kita sedang mendapatkan ber-esthetic.
Karena itu,
café yang hanya menjual suasana termasuk dalam kategori esthetic.
Kelemahan dari café yang tergolong esthetic adalah mereke tidak
mempunyai differensiasi lainnya selain suasana yang dijual. Tingkat improvement
dan innovasinya cukup rendah. Sehingga pengunjung yang datang hanyalah trial
customer, pengunjung yang hanya ingin mencoba, dan bukan regular
customer, yaitu pengunjung yang dapat dikatakan mengunjungi sebuah tempat
secara berkala.
Dulu ada yang
namanya café Sahara, suasana yang dijual layaknya nama yang dipajang, gurun
pasir. Café tersebut dilengkapi dengan tenda gurun dan tentu saja pasir, entah
pasir gurun atau hanya pasir pantai, yang jelas bukan pasir untuk membangun
rumah. Tapi tidak lama kemudian café Sahara ditutup. Mati. Dan sekarang berubah
menjadi Dago Terrace Café. Penyebabnya seperti yang sudah diduga, tidak ada
differensiasi pada menu, point of differentiation-nya hanya di suasana.
Atau
Kintamani yang café-nya bolak-balik ganti nama. Waktu lagi ngetrend artis bikin
café tenda, café-nya dikasih nama Tenda Artis. Sebelumnya pakai nama yang lain.
Sekarang malah sudah ganti nama lagi, Musicafe. Menunya masih itu-itu juga.
Di jalan
Trunojoyo ada sebuah restoran, Pagoda namanya. Menu yang ditawarkan adalah chinese
food, hampir sama sih dengan restoran chinese food lainnya. Tapi ada
perbedaan yang sangat signifikan antara Pagoda dengan restoran lainnya, menu
yang disajikan Pagoda sudah mendapat sertifikasi halal dari MUI Jawa Barat,
sehingga kaum muslim yang selama ini cuma bisa penasaran sama kelezatan chinese
food karena faktor halal dan haram, dapat menikmati makanan tersebut di
Pagoda. Ditambah alunan musik tradisional cina, maka pengunjung seolah-olah
sedang berada dalam sebuah acara jamuan makan di kerajaan cina kuno. Hanya
sayangnya, interior dan terutama pola pelayanan yang diberikan masih kentara
nuansa modern-nya, sehingga masih ada ketimpangan dalam suasana yang ditawarkan,
padahal pada suatu kesempatan tertentu pengunjung dipotret, atau malah pihak
Pagoda atau memberikan memorabilia berupa lampion, sehingga awareness
dan memory pelanggan terhadap Pagoda dan experience yang
dirasakan tetap terjaga.
Dalam bukunya
Pine & Gilmore menyarankan, agar tercipta memorable experience sehingga
bisnis dapat tetap bertahan dalam persaingan yang kian ketat, sebuah usaha
harus memperhatikan hal-hal berikut seperti memberikan tema, menyelaraskan
kesan yang ingin dirasakan oleh pengunjung dengan infrastuktur, menghilangkan
atau merubah infrastruktur yang tidak mendukung, menyediakan memorabilia, dan
terakhir menciptakan suasana yang sensasional.
Makanya salah
seorang teman saya yang pernah pergi ke Kampung Daun pernah menyatakan, “ke
Kampung Daun untuk dua atau tiga kali sih masih oke, tapi jangan lebih dari
itu, percuma…”
Atau misalnya
kita berulangkali berarung jeram di Citarik. Untuk pertama, kedua dan mungkin
ketiga kalinya kita masih bisa teriak-teriak kesenangan ataupun ketakutan
layaknya anak kecil bermain air, tetapi setelah itu kita merasa jenuh dan bosan
karena tidak ada excitement lainnya yang dirasakan sensasional.
Alternatifnya adalah pindah ke sungai yang menyediakan jeram dengan tingkat
kesulitan yang lebih tinggi daripada jeram di sungai yang biasa dipakai untuk
berwisata. Atau biasanya menggunakan perahu karet dan mendayung rame-rame, kita
bisa coba kayaking, mendayung perahu sendirian.
Contoh
lainnya, misalnya kita memanjat tebing. Misalnya di tebing 125, Citatah –
Padalarang. Karena sudah sering memanjat di jalur yang sama, maka excitement
menjadi berkurang, membosankan. Untuk menghilangkan kebosanan mungkin kita bisa
pindah ke tebing 90, masih di Citatah, yang menyediakan jalur yang lebih
menantang. Atau kalau mau merangsang adrenalin dan menciptakan suasana yang
sensasional, kita bisa memanjat tebing secara solo-free, alias memanjat
tanpa peralatan pengaman sama sekali. Cukup bermodalkan sepatu panjat dan kapur
magnesium. Tetapi yang ini jangan ditiru, biar ahlinya saja yang melakukan.
Karena yang menontonnya saja (entertainments dan esthetics) saja
sudah dipastikan akan tegang.
Anyway, kalau kita mendaki gunung Kinabalu, di titik peristahatan atau
shelter terakhir sebelum mencapai puncak, tersedia sebuah hotel dan restoran.
Untuk mencapai ke restoran tersebut kita harus bersusah payah mendaki dan
menghadapi segala hambatan. Yang jelas, mencapai puncak Kinabalu adalah sasaran
setiap pendaki, sedangkan shelter tersebut adalah bonus. That’s an exclusive
memorable experience!
