Tulisan ini pernah dimuat di harian surabaya post tanggal 14 Agustus 2001.
© 2001. N. Adhi W. All rights reserved.
"Guest coming, handle please…"
(Oke juga nih pelayanannya, seperti masuk hotel bintang lima atau restoran kelas atas…)
Begitu kesan
yang saya dapatkan ketika pertama kali makan di Baso Malang Karapitan. Agak
kaget juga sih, biasanya kalau masuk ke restoran cepat saji kita nggak
dapet perlakuan kayak begitu. Di KFC yang nyambut di depan pintu
paling-paling cuma patung lelaki tua berdasi model pita plus kacamata alias
Colonel Sanders atau ayam segede orang, di McDonald’s yang nyambut
mungkin patung badut nyengir, tapi di Baso Malang Karapitan begitu masuk
kita langsung disambut oleh seorang greeter, dianterin sampai ke meja yang
kosong, pas duduk langsung disuguhi segelas teh hangat. Begitu mau order
kita langsung bingung, banyak banget pilihan yang ada di order sheet-nya…
Sebenarnya
apa sih Baso Malang Karapitan itu?
Hanya sekedar jualan baso malang atau sebuah restoran yang menyediakan berbagai macam variasi makanan mulai dari baso malang sampai ke nasi goreng?
Kalau kita
tinjau lebih jauh terutama dari pilihan menu yang ditawarkan, Baso Malang
Karapitan tampaknya berusaha untuk menjadi merek jaringan restoran dengan
produk unggulan baso malang dan produk lainnya yang berbeda dengan kebanyakan
jaringan restoran cepat saji lainnya, ditambah dengan kelezatannya yang
‘katanya’ no. 1 di Bandung dan pelayanannya yang luar biasa. Sehingga asosiasi
yang mungkin diharapkan timbul di benak konsumen apabila mengingat Baso
Malang Karapitan adalah ‘sebuah jaringan restoran baso malang dengan
pelayanan yang luar biasa’. Yang akhirnya diharapkan akan men-drive
konsumen untuk selalu makan di Baso Malang Karapitan apabila mereka ingin
ngebaso malang.
Dari sisi
segmentasi dan targeting, Baso Malang Karapitan sepertinya berusaha
membidik segmen menengah ke bawah, dan berusaha untuk membangun image
bahwa makan baso malang pun bisa di tempat yang bergengsi dan tidak selamanya
harus makan di pinggir jalan, misalnya dari gerobak baso mang Oji, mang
Jana atau mang-mang lainnya. Karena itu lokasi yang dipilih pun selalu
di pusat keramaian, seperti department store, mall ataupun di
daerah lain yang dianggap menjadi pusat keramaian. Dan dengan desain ruangan
yang funky ditambah dengan pemakaian warna yang ngejreng
mirip-mirip bank Bali, dari situ kita bisa menarik kesimpulan bahwa anak muda
merupakan target pasar utama dari Baso Malang Karapitan.
Lalu yang
bagaimana sih konsep bisnis dari Baso Malang Karapitan? Restoran cepat saji
atau bukan?
Sebagai gambaran umum, salah satu ciri restoran cepat saji berdasarkan service cycle atau siklus pelayanan adalah pesan, terima makanan, bayar, cari tempat duduk, baru makan. Sedangkan restoran memiliki service cycle mulai dari cari tempat duduk, pesan, terima makanan, makan, dan terakhir baru bayar.
Baso Malang
Karapitan merupakan kombinasi kedua service cycle tersebut di atas, kita
harus cari tempat duduk, pesan, bayar, terima makanan, baru akhirnya makan.
Perbedaannya hanya sedikit sekali, tetapi dampaknya cukup signifikan!
Di mata
konsumen, kalau mereka belum membayar pesanan, mereka masih belum bisa complaint
karena belum ada ikatan pasti antara penjual dan pembeli. Jadi kalau makanan
telat datang mereka mungkin masih bisa menerima dengan lapang dada karena
mereka belum membayar sama sekali.
Sebaliknya, kalau mereka sudah membayar yang mereka pesan, konsumen akan membangun ekspektasi bahwa pesanan dia adalah prioritas utama, tidak peduli yang dia pesan itu hanya segelas es jeruk, yang jelas dia sudah membayar dan sudah ada komitmen antara penjual dan pembeli. Disitu akan timbul service gap dari segi kecepatan pelayanan antara pihak penjual dan pihak pembeli. Dari pihak penjual, dia punya standar akan memakan waktu berapa lama sebuah produk sudah harus disajikan di meja pelanggan. Sedangkan dari sisi konsumen, dia mengharapkan jarak waktu yang super singkat antara pemesanan sampai dengan penyajian, kalau bisa sih pesanan sudah tersedia begitu pelayan sudah selesai menulis pesanan kita.
Hal yang
dipaparkan di atas mungkin bisa menjadi masalah di masa mendatang…
Dalam posisi
yang mungkin bisa dikatakan stuck in the middle, konsumen yang datang
akhirnya bukan regular customer, mungkin hanya trial customer,
yang hanya mencoba sekali-dua kali saja untuk makan di Baso Malang Karapitan.
Walaupun
produk unggulannya ‘cuma’ baso, tetapi karena lokasinya yang selalu di pusat
keramaian dan kebijakan harga yang relatif dekat ke paket hemat ataupun murah
dari restoran cepat saji, maka konsumen dengan sendirinya akan selalu mem-benchmark
Baso Malang Karapitan dengan kompetitor yang sudah menggurita seperti
McDonald’s, Hoka-Hoka Bento, KFC, atau restoran cepat saji lainnya, dan bukan
dengan gerobak baso mang Oji, mang Jana, atau malah dengan
restoran lain maupun café yang banyak bertebaran di kota Bandung…
Lagipula
masih ada satu keunggulan gerobak baso malang yang saat ini belum diadaptasi,
bahasa kasarnya ditiru oleh Baso Malang Karapitan, yaitu customization,
dimana pembeli di gerobak baso dapat menentukan apa saja isi dari mangkok baso
mereka, tergantung dari berapa uang yang mereka alokasikan untuk membeli baso
malang. Sedangkan di Baso Malang Karapitan kita sudah harus memilih set produk
dari beberapa alternatif menu yang isinya belum tentu kita suka semua. Kalau
mau disesuaikan dengan keinginan kita akan mahal sekali harganya karena kita
harus membeli setiap bagian dari satu porsi baso malang yang kita inginkan
secara terpisah, masing-masing satu porsi.
Ini akan
terasa berat sekali, karena bila dianalisa berdasarkan konsep product life
cycle Baso Malang Karapitan mungkin masih dalam tahap market
introduction, dan mayoritas konsumennya masih dalam berada dalam tahap innovator
alias masih coba-coba, trial customer, belum masuk ke kelompok early
adopter apalagi early majority, sehingga kemungkinannya untuk terus
tumbuh berkembang dan menjadi cash cow masih gelap, fifty-fifty.
Hal tersebut disebabkan karena konsumen masih dalam tahap mengevaluasi apakah
produk tersebut dapat diadopsi dan bisa menjadi bagian dari gaya hidup mereka
atau tidak. Kalau dianggap layak, maka kemungkinan untuk tumbuh cukup besar.
Tetapi kalau oleh konsumen dianggap tidak layak, mungkin harus siap-siap untuk
melempar handuk ke tengah ring atau merubah konsep produk dan/atau bisnis model
yang sekarang sedang dijalankan.
Harus
Mempunyai Unique Selling Proposition
Jack Trout dan Steve Rivkin dalam bukunya Differentiate or Die, menyatakan bahwa agar dapat bertahan di pasar kita harus mempunyai USP atau Unique Selling Proposition alias faktor pembeda yang bisa dijual pada konsumen. Kalau tidak maka konsumen akan membandingkan kita dengan kompetitor hanya sebatas di harga, yang paling murah yang menang, dan menurut mereka berdua, harga jarang sekali digunakan sebagai point of differentiation.
Dalam kasus
Baso Malang Karapitan, apa yang menjadi USP mereka?
Lini produk
yang ada di order sheet sepertinya kebanyakan dan tampaknya tidak pernah
dievalusi mana yang hot product, normal product, yang sekarat,
dan yang harusnya sudah almarhum. Yang ada tampaknya varian produknya ditambah
terus, terus dan terus…
Menurut Jack
Trout dan Steve Rivkin, luasnya lini produk sangat sulit sekali untuk digunakan
sebagai ajang berdiferensiasi. Tetapi kalau lini produknya dipersempit, maka
kita bisa bisa pakai hot product sebagai point of differentiation,
karena spesialisasi yang digabungkan dengan preferensi konsumen adalah salah
satu cara untuk membangun diferensiasi, dan untuk membangun suatu diferensiasi
yang kuat kita harus rela untuk mengorbankan apa yang kita miliki.
Lezatnya no.
1 di Bandung atau lezatnya bikin heboh Bandung seperti yang dipajang di atap
pos polisi di beberapa perempatan strategis di kota Bandung?
Yang jelas taste
setiap orang pasti ada yang berbeda, tidak selamanya sama, bahkan orang kembar
sekalipun. Tetapi mungkin masih bisa digunakan sebagai bahan untuk melakukan
differensiasi, asalkan diperjelas, karena atribut yang dimiliki oleh sebuah
merek dan juga kepemimpinan di bisnis
yang digeluti (dunia perbasoan) adalah
cara untuk membangun diferensiasi.
Berangkat
dari situ mungkin Baso Malang Karapitan akan punya pekerjaan rumah agar dapat
tetap survive dan terus berkembang, seperti mengevaluasi lini produk dan
menentukan bagian mana dari produk maupun elemen dari perusahaan yang akan
dijadikan point of differentiation dan tentunya dikomunikasikan pada
konsumen.
Yang jelas
hanya berbekal pelayanan yang memuaskan saja tentunya akan sulit untuk
bertahan, apalagi untuk memenangkan persaingan, karena kualitas dan orientasi
pada kepuasan pelanggan jarang sekali digunakan sebagai ajang berdiferensiasi.
Tetapi
terlepas dari itui semua Baso Malang Karapitan patut kita acungi jempol dalam
usaha mereka, karena mereka bisa dianggap cukup berhasil dalam merubah pola
pikir konsumen yang beranggapan kalau makan baso malang hanya bisa dari gerobak
baso dan kalau makan di tempat umum pun kita harus sedikit pemalu,
nyumput-nyumput maksudnya, sekarang dengan adanya Baso Malang Karapitan para
baso malang mania bisa makan di tempat yang cukup bergengsi dan nggak perlu
malu-malu lagi, ya khan?
