Tulisan ini pernah dimuat di harian surabaya post tanggal 21 Oktober 2001.
© 2001. N. Adhi W. All rights reserved.
Ke bengkel setelah beli mobil?
Sudah bukan
zamannya lagi!
Kendaraan siap pakai.
Kalimat yang
provokatif dan selalu dimuat secara berkala dalam kolom iklan di harian Pikiran
Rakyat Bandung dan sempat juga dipajang di billboard di persimpangan jalan
daerah Ancol dan Moh. Ramdhan tersebut sangat menggelitik saya.
Kalimat
tersebut seolah-olah menyatakan bahwa mobil bekas yang di jual di 99 Mobil
berada dalam kondisi terbaik di tahun sekelasnya atau siap pesta, mengutip
bahasa dari Astra, sedangkan mobil yang dijual di showroom lainnya sama sekali
belum siap pakai.
Lain lagi
pernyataan dari Mobil ’88, dalam komunikasi pemasarannya yang cukup gencar di
bulan Mei dan Juni yang lalu, Mobil ’88 mencoba untuk mengklaim bahwa Mobil ’88
adalah pusat mobil berkualitas yang aman, cepat dan terpercaya.
Ditinjau dari
program komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh kedua perusahaan, 99 Mobil
memposisikan dirinya sebagai showroom mobil bekas yang menyediakan mobil yang
sudah siap pakai tanpa harus pergi lagi ke bengkel untuk melakukan berbagai
macam perbaikan. Untuk gampangnya kalau beli mobil dari 99 Mobil, maka pergi ke
bengkel hanya untuk perawatan berkala seperti service dan ganti oli.
Sedangkan
Mobil ’88 memposisikan dirinya sebagai showroom mobil bekas yang menyediakan
mobil bekas yang berkualitas dan mengutamakan layanan yang cepat, aman dan
terpercaya.
Pada dasarnya
dalam memposisikan sebuah produk, jasa ataupun sebuah perusahaan harus memenuhi
3 perspektif, yaitu company perspective, market perspective dan differentiator.
Dalam company
perspective, produk atau jasa yang diposisikan tersebut harus dapat
‘memaksa’ konsumen tersebut agar mengambil keputusan pembelian yang lebih
memihak atau menguntungkan perusahaan. Selain itu, positioning yang
dilakukan juga harus dapat menguasai satu kapling di benak konsumen, sehingga
konsumen akan selalu mengingat merek produk atau jasa yang ditawarkan oleh
perusahaan apabila mereka menghadapi masalah dan membutuhkan solusi.
Dalam market
perspective, perusahaan harus memahami apa yang paling dibutuhkan oleh
konsumen dalam produk atau jasa yang ditawarkan, sehingg produk atau jasa
tersebut harus harus dapat memenuhi kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi.
Dalam differentiator
atau faktor pembeda, strategi positioning yang diambil harus
didasarkan pada hal yang tampak (tangibles) dan tidak tampak (intangibles)
dan berhubungan dengan kebutuhan konsumen yang belum terpenuhi. Hal tersebut
dapat merupakan pengamatan atau pengalaman perusahaan dalam memasarkan
produknya dan berhubungan langsung dengan konsumen.
Bila
dikaitkan pada perilaku konsumen di pasar mobil bekas, maka pada umumnya
konsumen di pasar mobil bekas selalu menganggap bahwa mobil yang mereka beli
masih kurang oke, sehingga mereka masih perlu menyisihkan dana dan pergi ke
bengkel untuk melakukan perbaikan-perbaikan yang dianggap perlu untuk
mengembalikan ataupun meningkatkan kinerja mobil ke kondisi yang lebih baik.
Sebagai
contoh, apabila saya membeli sebuah mobil seharga 70 juta rupiah, maka saya
masih harus punya dana cadangan sebesar kurang lebih Rp. 5 – 7 juta rupiah atau
kurang lebih 10% dari nilai mobil yang akan saya pergunakan untuk memperbaiki
kondisi mobil yang saya beli. Hal tersebut berlaku umum, baik untuk membeli
mobil bekas dari pemakai maupun dari showroom mobil bekas.
Bagaimana dengan orang yang sibuk dan tidak ada waktu untuk pergi ke bengkel? Berdasarkan pengamatan saya, agaknya segmen pasar tersebut yang menjadi fokus target dari Mobil ’88 maupun 99 Mobil.
Dengan
manfaat utama berupa mobil yang berkualitas serta pelayanan yang cepat aman dan
terpercaya untuk Mobil ’88, dan mobil yang siap pakai untuk 99 Mobil, maka
kedua showroom mobil bekas tersebut seakan-akan keluar dari persaingan di pasar
mobil bekas dan melakukan redefinisi bagaimana para pemain di pasar mobil bekas
seharusnya berkompetisi.
Singkatnya,
menciptakan medan perang yang baru.
Dengan
program komunikasi pemasaran yang dilakukan oleh kedua showroom mobil bekas
tersebut, maka mereka melakukan apa yang disebut sekali merengkuh dayung,
dua-tiga pulau terlampaui. Tadinya mengarah pada segmen pasar konsumen yang
tidak punya waktu untuk membawa mobilnya ke bengkel, ternyata orang yang tidak
mau menyibukkan diri untuk pergi ke bengkel plus konsumen yang kurang mengerti
dunia otomotif pun menjadi pasar mereka.
Maka dari
itu, Mobil ’88 dengan berbekal dengan nama besar Astra International yang
merupakan jagonya otomotif di Indonesia mungkin lebih mudah untuk mendapatkan
kepercayaan konsumen dalam hal kondisi dan kualitas mobil. Sedangkan 99 Mobil
untuk hal yang sama mungkin harus merintis dari awal terlebih dahulu…
Tetapi jangan
langsung yakin dulu dalam membeli mobil bekas… Dalam ilmu positioning ada yang
disebut sebagai confused (membingungkan) dan doubtful (meragukan)
positioning.
Positioning yang membingungkan konsumen dapat timbul apabila perusahaan
berusaha mengklaim banyak hal dari produk atau jasa yang ditawarkan. Sedangkan positioning
yang meragukan dapat timbul apabila perusahaan terlalu banyak mengobral janji, over
promise under deliver, sehingga apa yang diklaim ternyata berbeda dengan
kenyataan.
Mobil ’88
mungkin mendapat dukungan dari Astra International, tetapi belum tentu mobil
yang disediakan berkualitas, karena Mobil ’88 pada awal pendiriannya ditujukan
untuk menjadi pendukung jaringan showroom mobil baru milik Astra International
yang menjembatani antara pemilik mobil yang ingin mengganti mobilnya dengan
cara trade-in atau tukar tambah. Jadi, demi mendukung penjualan mobil
baru ada kemungkinan mobil yang pernah mengalami tabrakan, atau seharusnya
sudah masuk ‘museum’ dijual juga oleh Mobil ’88. Dimake-up sedikit,
untuk orang yang awam mungkin akan kesulitan untuk mengetahui sejarah mobil
yang dijual, betul nggak?
Sama halnya
dengan 99 Mobil atau mungkin showroom mobil bekas lainnya, tetapi karena 99
Mobil tidak ada beban untuk mendukung penjualan mobil baru, maka 99 Mobil
kemungkinan besar akan lebih selektif dalam kualitas ketika mencari dan memilih
mobil yang akan dijadikan stock. Dan sebagai salah satu strategi agar usahanya
dapat bertahan lama dan menjalin hubungan jangka panjang dengan pelanggan, maka
99 Mobil mungkin berusaha untuk membangun image dengan menepati janji
yang mereka berikan, baik melalui kondisi mobil yang dijual maupun pelayanan
yang diberikan.
