Planning & Execution Excellence (Contoh Kasus dalam Industri Perbankan Indonesia)

© 2025. Disarikan dan dikembangkan dari berbagai sumber oleh N. Adhi W. dan Prajna Bandia

Manajemen pada dasarnya adalah proses pencapaian sasaran bersama dengan atau melalui orang lain. Dalam dunia kerja yang semakin kompleks, manajemen bukan sekadar mengatur, tetapi juga memastikan bahwa tujuan organisasi dapat tercapai secara efektif dan efisien. Untuk itu, fungsi dasar manajemen yang dikenal dengan istilah POAC (Planning, Organizing, Actuating, Controlling) menjadi kerangka utama dalam menjalankan pekerjaan sehari-hari, termasuk di industri perbankan.

Tahap pertama fungsi dasar manajemen adalah planning atau perencanaan. Perencanaan berarti mendefinisikan sasaran yang jelas, menentukan target yang ingin dicapai, serta menetapkan ukuran kinerja yang sesuai. Sasaran harus diturunkan dari tujuan organisasi yang lebih besar, sehingga setiap unit kerja bergerak ke arah yang sama. Dalam perbankan, perencanaan dapat berupa penetapan target peningkatan dana pihak ketiga sebesar 15 persen dalam satu tahun, atau pengurangan waktu analisis kredit dari lima hari menjadi tiga hari dalam enam bulan. Target semacam ini harus disusun dengan prinsip SMART, yaitu spesifik, terukur, dapat dicapai, relevan, dan berbatas waktu.

Contoh konkret dapat dilihat pada divisi kredit dari sebuah bank di Indonesia. Divisi ini menetapkan target mempercepat proses analisis kredit yang semula rata-rata memakan waktu lima hari menjadi tiga hari saja dalam kurun enam bulan sejak target tersebut ditetapkan. Dengan target yang SMART, seluruh tim memiliki arah yang jelas dan tolok ukur untuk menilai keberhasilan mereka. Hal serupa juga berlaku di lini operasional. Teller di sebuah cabang bank, misalnya, merancang target mengurangi waktu antrean rata-rata dari 20 menit menjadi 10 menit dalam tiga bulan. Sementara seorang Account Officer (AO) menyusun rencana mempertahankan rasio retensi nasabah di atas 90 persen dalam satu tahun dengan menetapkan daftar nasabah prioritas yang akan dikelola lebih intensif.

Tahap berikutnya adalah organizing atau pengorganisasian. Setelah tujuan ditetapkan, organisasi perlu membagi peran, tanggung jawab, dan sumber daya untuk memastikan rencana dapat dijalankan. Salah satu alat penting yang digunakan adalah RACI Matrix yang merupakan singkatan dari Responsible, Accountable, Consulted dan Informed.

Dalam kasus teller, branch manager menata shift kerja agar tidak terjadi penumpukan antrean pada jam sibuk, menetapkan teller sebagai pihak yang Responsible, supervisor sebagai Accountable, dan bagian IT sebagai Consulted dalam pengelolaan sistem antrean digital. Pada kasus Account Officer, pengorganisasian dilakukan dengan menyusun jadwal kunjungan rutin, membagi kategori nasabah (korporasi, UMKM, ritel), serta menyediakan dukungan dari divisi produk untuk memberi masukan terkait kebutuhan nasabah yang spesifik. Sedangkan di divisi kredit, peran analis junior difokuskan pada pengumpulan data, sementara analis senior bertanggung jawab pada validasi akhir, dengan kepala divisi memegang akuntabilitas penuh atas keputusan kredit.

Tahap ketiga adalah actuating atau pelaksanaan. Pada tahap ini, rencana dan struktur yang sudah disusun dijalankan dengan melibatkan seluruh anggota tim. Actuating menekankan pentingnya kepemimpinan yang mampu memberi arahan yang jelas, mengurangi asumsi melalui konfirmasi, serta menjaga motivasi tim.

Seorang branch manager yang menghadapi antrean panjang di teller atau customer service, misalnya, tidak hanya memberi instruksi, tetapi juga mendampingi timnya dengan arahan nyata: transaksi tunai sederhana harus segera diproses, sementara transaksi yang lebih kompleks diarahkan ke customer service. Account Officer yang berupaya menjaga retensi nasabah dapat memanfaatkan prinsip Eisenhower untuk mengatur prioritas kunjungan. Nasabah yang berpotensi besar untuk berpindah bank ditempatkan dalam kategori penting dan segera, sehingga harus dikunjungi terlebih dahulu. Sedangkan kegiatan pengembangan hubungan jangka panjang dengan komunitas bisnis lokal masuk dalam kategori penting tapi tidak segera, sehingga perlu dijadwalkan secara konsisten. Sementara itu, di divisi kredit, kepala unit memberikan motivasi kepada tim analis untuk memanfaatkan sistem credit scoring agar mempercepat proses, sekaligus mengingatkan agar fokus pada pengajuan kredit yang mendesak dan bernilai tinggi.

Tahap terakhir adalah controlling atau pengendalian. Fungsi ini memastikan bahwa pelaksanaan berjalan sesuai dengan rencana. Prosesnya mencakup memantau kinerja, membandingkan realisasi dengan target, serta menindaklanjuti ketidaksesuaian.

Pada kasus teller dan customer service, rata-rata waktu antrean dipantau setiap hari melalui sistem antrean digital. Jika masih ada teller atau customer service yang kinerjanya di bawah standar, supervisor akan segera memberikan coaching. Pada kasus Account Officer, rasio retensi dievaluasi bulanan. Jika data menunjukkan ada nasabah prioritas yang mulai menurunkan saldo atau jarang bertransaksi, Account Officer segera melakukan pendekatan personal. Sedangkan di divisi kredit, waktu analisis pengajuan kredit dipantau secara mingguan. Jika ada pengajuan kredit yang melampaui tiga hari, dilakukan evaluasi apakah keterlambatan terjadi karena faktor internal analis atau kurang lengkapnya dokumen dari calon debitur, lalu ditentukan tindak lanjut yang tepat.

Keseluruhan konsep ini menunjukkan bahwa manajemen kerja adalah rangkaian proses yang saling terhubung. Perencanaan memberi arah, pengorganisasian memastikan sumber daya tertata, pelaksanaan menggerakkan tim sekaligus menjaga prioritas, dan pengendalian memastikan rencana tetap pada jalurnya. Dengan disiplin menerapkan fungsi dasar manajemen, ditambah kemampuan mengelola prioritas secara cerdas, seorang banker dapat mengelola pekerjaannya secara efektif dan efisien.

Di tengah persaingan perbankan Indonesia yang semakin ketat, penerapan fungsi dasar manajemen atau POAC tidak hanya menjadi teori manajemen, melainkan kebutuhan praktis. Bank yang mampu merencanakan dengan SMART, mengorganisasi dengan RACI, menggerakkan tim dengan kepemimpinan yang kuat sekaligus manajemen prioritas yang tepat, serta mengendalikan kinerja dengan disiplin, akan lebih siap menghadapi perubahan pasar dan meningkatkan kepuasan nasabah. Dengan demikian, Planning & Execution Excellence bukan hanya slogan, melainkan seni sekaligus disiplin untuk menjadikan visi organisasi sebagai aksi nyata yang berdampak.